Yogyakarta, kota budaya nan indah yang ada di pesisir pantai selatan. Eloknya pemandangan dan tata kota didalamnya tak luput dari pesona budaya dan keramahtamahan penghuninya. Yogyakarta, negara di dalam negara kata Susilo Bambang Yudhoyono. Memang benar, menilik sejarahnya dahulu, kota yang tidak terlalu besar ini merupakan sebuah negeri yang makmur dan tenteram. Di dalamnya mengandung filosofi
kejawen yang sangat erat. Kerajaan pecahan Mataram ini akan sangat dikenang budinya untuk Indonesia.
Bagaimana tidak? Kerajaan yang merdeka dan makmur, yang sampai
Kompeni pun memberi hak untuk berdaulat menjadi Negara Kesultanan dan diiming-imingi beberapa emas dunia, mau-maunya masuk ke Republik Indonesia yang tercinta ini! Selalu mempunyai Raja yang bijaksana dan bergelar
khalifatullah ing tanah Jawa, serta mengerti filosofi
kejawen dan islam, sekali lagi, mau-maunya menjadi bagian Republik Indonesia yang tercinta ini! Kemudian jangan lupakan hutang Indonesia kepada Yogyakarta. Sebanyak 6 juta
gulden disumbangkan untuk menopang berdirinya Republik Indonesia yang tercinta ini. Rajanya yang bijaksana kala itu, Sri Sultan
Hamengkubuwono IX berkata, "Yogyakarta sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang." Beliau mengatakan
Yogyakarta, bukan mengatakan
Saya,
Kerajaan, atau
Kraton. Begitu besarnya pengorbanan dan makna filosofi
manunggal yang diterapkan oleh Pemimpin dan Rakyatnya.
Kita tilik lagi yang sekarang terlihat. Yogyakarta sudah berubah, bukan kearah yang positif, tapi berubah kearah yang negatif. Kebobrokan Ibu Kota ini mulai merambah ke tanahku Yogyakarta. Banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan sosial. Kota ini sudah tidak berpegang teguh dengan filosofi
kejawen-nya lagi. Tawuran, narokoba, seks bebas, aborsi,
klitih, dan ajang penegakan hedonisme mulai terlihat disetiap sudut kota ini.
Banyak terjadi tawuran, bukan hanya anak SMA, bahkan anak SMP pun mengikuti ajang kebodohan ini. Memang jarang terlihat, karena memang tidak dikoar-koarkan,
Alhamdulillah. Yang paling terbaru adalah saling
nglitih, ini dilakukan antar geng-geng di kota ini. Tawuran berbasis
gerilya yang dilakukan dengan bangga dan
sok keren. Padahal? Sangat menyedihkan. Taktik
gerilya diciptakan untuk melawan penjajah atau orang yang menyalahi peri kemanusiaan. Bukan, malah dipakai untuk menyalahi aturan peri kemanusiaan. Setelah ditilik lebih lanjut, pembesar geng-geng yang melakukan aksi
nglitih ini bukanlah anak Yogya. Rerata adalah anak Jawa Timur atau Luar Jawa. Sementara anggotanya, tentu anak Yogya yang diiming-imingi kekerenan anak TK. Sungguh parah.
Kemudian, kota ini pun dijadikan ajang penegakan hedonisme. Tata kota yang asri dan penuh filosofi, disulap menjadi pusat perbelanjaan atau pasar modern. Pembangunan Mall-Mall sebagai sarang hedonisme mulai banyak berkembang. Yang terakhir di Jalan Magelang. Mall baru yang merusak filosofi
kejawen yang asri dan lestari. Maka, banyak masyarakat tanah ini yang menyuarakan, "JOGJA ORA DI DOL!" (JOGJA Tidak Dijual!). Sungguh luar biasa masyarakat tanah ini.
Perubahan ini terjadi bukan karena kejelekan Raja, Abdi, atau Masyarakatnya. Akan tetapi ini disebabkan oleh pemerintahannya yang tidak bisa memegang dan mengerti arti nilai-nilai filosofi kota indah ini. Semoga ini menjadi renungan kita bersama dan kedepannya, bukan hanya Yogyakarta, namun Republik Indonesiaa kita yang tercinta ini dapat maju menjadi yang lebih baik.